<![CDATA[PT Proven Force Indonesia - News]]>Wed, 13 Nov 2019 04:45:24 +0700Weebly<![CDATA[Lowongan Administrasi Keuangan]]>Thu, 10 Oct 2019 07:42:48 GMThttp://provenforceindonesia.com/news/lowongan-administrasi-keuanganKriteria / Syarat :
Pria/Wanita usia Max. 30 thn
Pengalaman minimal 1 Tahun
Pendidikan minimal D3 (Management Informatika, Komputer Akutansi, Management Ekonomi/Akutansi)
Disiplin, Komunikatif, Detail
Dapat mengoperasikan komputer (Ms. Office)
Jujur dan Berintegritas

Kirim Email CV ke 
​hrga@provenforceindonesia.com

SOHO Tower Pancoran
Jl. Let. Jend. MT. Haryono
Kav 2-3, 16th floor,
Noble 1615
Jakarta Selatan 12810
Telp. (021) 806 25846
​Fax.  (021) 806 25847
]]>
<![CDATA[Lowongan Telemarketing]]>Thu, 10 Oct 2019 07:33:43 GMThttp://provenforceindonesia.com/news/lowongan-telemarketingKriteria / Syarat :
Wanita usia Max. 30 thn
Pengalaman minimal 1 Tahun
Pendidikan minimal SMA, SMK, Diploma (D3) semua jurusan
Komunikatif
Dapat mengoperasikan komputer (Ms. Office)
Dapat bekerja dengan target
Bersedia ditempatkan di jakarta

Kirim Email CV ke 
​hrga@provenforceindonesia.com

SOHO Tower Pancoran
Jl. Let. Jend. MT. Haryono
Kav 2-3, 16th floor,
Noble 1615
Jakarta Selatan 12810
Telp. (021) 806 25846
​Fax.  (021) 806 25847
]]>
<![CDATA[Lowongan Supervisor Produksi]]>Thu, 10 Oct 2019 07:13:08 GMThttp://provenforceindonesia.com/news/lowongan-supervisor-produksiKriteria / Syarat :
Pria
Pendidikan minimal D3
Pengalaman kerja di bidang pabrikasi
Memahami perencanaan produksi
Memahami perhitungan & koordinasi pemenuhan kebutuhan tenaga kerja
Cepat faham product & process knowledge
Memiliki skill komunikasi & negosiasi
Mempunyai jiwa leadership yang baik untuk memimpin admin, personalia & kepala regu
Mampu menangani keluhan packer/karyawan
Siap 24 jam jika sewaktu-waktu produksi membutuhkan keputusan strategis
Bersedia ditempatkan di wilayah bogor

Kirim Email CV ke 
​hrga@provenforceindonesia.com

SOHO Tower Pancoran
Jl. Let. Jend. MT. Haryono
Kav 2-3, 16th floor,
Noble 1615
Jakarta Selatan 12810
Telp. (021) 806 25846
​Fax.  (021) 806 25847
]]>
<![CDATA[Lowongan PFI Konsultan Productivity]]>Tue, 03 Sep 2019 04:54:58 GMThttp://provenforceindonesia.com/news/lowongan-pfi-konsultan-productivity+
Kriteria / Syarat :
Pria
Pendidikan minimal D3/S1/S2 (Tehnik Industri, Informatika, Mesin, Manajemen SDM)
Pengalaman kerja bidang Manufacturing minimal 1 tahun
Disiplin, Komunikatif, Kreatif, Inisiatif tinggi dan cekatan
Dapat bekerja di bawah tekanan
Bersedia di tempatkan dimana saja. 

Kirim Email CV ke 
​hrga@provenforceindonesia.com

SOHO Tower Pancoran
Jl. Let. Jend. MT. Haryono
Kav 2-3, 16th floor,
Noble 1615
Jakarta Selatan 12810
Telp. (021) 806 25846
​Fax.  (021) 806 25847]]>
<![CDATA[Seni Berbicara Di Depan Umum]]>Thu, 07 Feb 2019 05:36:05 GMThttp://provenforceindonesia.com/news/seni-berbicara-di-depan-umum
Di era keterbukaan saat ini kesempatan untuk berbicara dan mengeluarkan pendapat di muka umum sangat terbuka dengan lebar, setiap orang dapat berbicara (di muka umum), namun belum tentu semua orang mampu berbicara dengan cara yang tepat, diwaktu yang tepat, dan pada orang yang tepat. Berbicara bukan sekedar mengeluarkan kata-kata, uneg-uneg atau perasaan namun lebih dari pada itu, berbicara adalah proses dan seni penyampaian informasi dan gagasan pada orang yang tepat, diwaktu yang tepat, dengan cara yang tepat sehingga mereka mengikuti hal-hal yang diharapkan.

Kemampuan berbicara di muka umum sangat di perlukan bagi siapa pun yang berhubungan dengan orang lain, mulai dari seorang ayah, ketua RT, sallesman, guru, supervisor, manager, trainer, politikus, hingga seorang presiden, semua harus mempunyai kemampuan berbicara di muka umum, atau sebagai public speaking.

Public Speaking merupakan sebuah rumpun keluarga Ilmu Komunikasi (Retorika) yang mencakup berdiskusi, berdebat, pidato, memimpin rapat, moderator, MC, motivator dan presenter serta kemampuan seseorang untuk dapat berbicara di depan publik, kelompok maupun perseorangan yang perlu menggunakan strategi dan teknik berbicara yang tepat.

Menurut David Zarefsky, dalam Public Speaking Strategic for Success; “Public speaking is a continuous communication process in which messages and signals circulate back and forth between speaker and listeners.” Atau dapat diartikan: Public Speaking adalah sebuah proses komunikasi berkelanjutan, di mana pesan, simbol (komunikasi) terus berinteraksi, antara pembicara dan para pendengarnya. Adapun menurut Gunasi public speaking merupakan komunikasi yang dilakukan secara lisan, yaitu tentang suatu hal atau topik yang disampaikan dihadapan banyak orang dengan tujuan untuk memberikan informasi kepada banyak orang. Sedangkan David zarefsky mengutarakan public ppeaking adalah suatu proses komunikasi yang berkelanjutan yang dimana pesan dan lambang bersirkulasi berulang-ulang secara terus-menerus antara pembicara dan para pendengarnya.

Di era keterbukaan dimana setiap orang mempunyai hak untuk mendapatkan informasi atas suatu hal maka kemampuan berbicara di muka umum adalah hal yang sangat penting harus dimiliki.  Berikut beberapa tujuan dalam public speaking : 1) menjelaskan suatu maksud dan tujuan atas suatu hal, 2) menjelaskan suatu permasalahan yang sedang, akan dan telah terjadi, 3) membangun opini publik, 4) membangun citra organisasi atau perorangan, 5) mempengaruhi orang lain, 6) melakukan kontra informasi yang merugikan organisasi atau perorangan.

Namun seperti yang telah disebutkan diatas bahwa berbicara dimuka umum tidak segampang pembalikan telapak tangan apalagi jika mengatasnamakan suatu lembaga dan nama baik perorangan.  Karena jika terjadi slip of the toungh yang terjadi merugikan nama lembaga dan seseorang, sehingga berbicara dimuka umum pun harus sangat terukur.

Dalam sistematisasi retorika (komunikasi) Aristoteles, aspek terpenting dalam teori dan dasar pemikiran retorika adalah tiga jenis pendekatan untuk mempersuasi audiens, yakni logos, pathos dan ethos. Logos adalah strategi untuk meyakinkan audiens dengan menggunakan wacana yang mengedepankan pengetahuan dan rasionalitas (reasoned discourse), sementara pathos adalah pendekatan yang mengutamakan emosi atau menyentuh perasaan audiens dan ethos adalah pendekatan moral menggunakan nilai-nilai yang berkaitan dengan keyakinan audiens. Ketiga hal tersebut harus dikemas dengan baik ketika kita sedang berbicara di muka umum agar hasilnya sesuai dengan yang kita kehendaki dan tidak menimbulkan permasalahan dikemudian hari.

Di era keterbukaan yang penuh dengan ke”kepo”an, ungkapan yang mengatakan “silence is gold” tidak bisa lagi selamanya kita terapkan, karena publik menunggu penjelasan dan konfirmasi atas suatu hal yang sedang terjadi, maka mau atau tidak mau kita harus siap untuk berbicara di muka umum untuk menjelaskan hal-hal tersebut.  Untuk itu terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan ketika berbicara dimuka umum sebagai public speaking, antara lain : 1) pahami dengan jelas tema apa yang akan dikatakan, 2) ketahui siapa yang menjadi audiencenya, 3) ketahui media apa yang akan meliput, 4) siapkan perkataan apa yang akan diungkapkan (berlandaskan data yang ada), 5) bayangkan dampak informasi yang akan disampaikan, 6) fokus pada permasalahan, 7) arahkan pembicaraan pada hal yang ingin dibangun, 8) kendalikan kata-kata yang akan dikeluarkan, 9) kendalikan intonasi suara, 10) perhatikan gesture tubuh ketika berbicara.

Dengan kata-kata kita mampu memimpin dunia, salam Produktivitas



Dr. Ervin A. Priambodo, MM
Executive Director PT. Proven Force Indonesia
Executive Director ICED Institute
Sumber:
Koran Tempo, 6 Feb 2019, hal 6
]]>
<![CDATA[Kepemimpinan Transformasional]]>Thu, 15 Nov 2018 04:02:08 GMThttp://provenforceindonesia.com/news/kepemimpinan-transformasional
​Di era VUCA setiap pemimpin perusahaan dihadapi tantangan besar untuk mampu berkelit disaat yang sulit.  VUCA yang merupakan singkatan dari volatile (bergejolak), Uncertain (tidak pasti), Complex (kompleks), dan Ambigue (tidak jelas) merupakan gambaran situasi di dunia bisnis pada masa kini, yaitu suatu kondisi yang penuh dengan perubahan yang sangat cepat yang disertai dengan ketikpastian disegala bidang.

Volatility berarti sebuah dinamika perubahan yang sangat cepat disegala bidang hal seperti ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Uncertainty bermakna suatu bentuk ketidakpatian atas perubahan dan permasalahan yang terjadi dimasyarakat. Complexity adalah ketertautan yang saling semrawut antara satu kejadian dengan kejadian yang lain. Ambiguity dapat diartikan sebagai kegamangan yang terjadi  disemua sektor dan bidang kehidupan akibat perubahan yang capat namun dalam ketidakpastian.

Maka dalam mengahadapi kondisi ini dibutuhkan seorang pemimpin transformasional, seorang pemimpin yang mampu mengajak seluruh anak buahnya untuk bergerak berubah menjadi lebih baik, lebih cepat dan lebih produktif.  Dibutuhkan seorang pemimpin transformasional yang memiliki visi yang kuat, memahami perubahan yang terjadi, mengetahui positioning perusahaan dengan jelas, dan bersikap agility dalam bergerak menyesuaikan dinamika yang terjadi.

Jimmy Gani merupakan salah satu dari sekian banyak transformational leader di negeri ini.  Pada saat di usianya yang relatif muda (36 tahun) ia telah dipercaya untuk  menjadi CEO salah satu BUMN terkemuka di Indonesia, dan karena prestasinya tersebut maka ia pun dianugrahi oleh Jaya Suparna masuk rekor MURI (Museum Rekor Republik Indonesia) sebagai CEO BUMN termuda Indonesia (saat itu).  

Di usianya yang relatif muda ia lakukan transformasi pada perusahaan yang ia pimpin, perlahan  namun pasti ia ajak segenap jajaran manajemen dan anak buah nya untuk berubah menatap masa depan, semua kalangan diminta berkolaborasi memberikan potensi terbaik yang dimiliki .   

Menurut   Jimmy Gani transformational leadership  adalah pendekatan kepemimpinan yang merubah kondisi dari suatu organisasi secara signifikan menuju ke arah positif dengan menggerakan semua unsur kepentingannya untuk terlibat.  Dalam hal ini seorang pemimpin yang transformasional harus dapat menginspirasi seluruh elemen organisasi, baik didalam maupaun diluar agar terjadi perubahan signifikan bagi organiasi itu sendiri, mapun pemangku kepentingannya.

Hal tersebut senada dengan yang disampaikan oleh Burns (1978), “transforming leadership is a process in which leaders and followers help each other to advance to a higher level of morale and motivation", yang berarti kepemimpinan transformasional merupakan suatu proses di mana "para pemimpin dan pengikut saling membantu untuk maju ke tingkat moral dan motivasi yang lebih tinggi".  Adapun menurut Bass dalam Zanikham (2008) kepemimpinan transformasional didefinisikan sebagai kemampuan pemimpin mengubah kemampuan kerja, motivasi kerja, dan pola kerja, dan nilai - nilai kerja yang dipersepsikan bawahan sehingga mereka lebih mampu mengoptimalkan kinerja untuk mencapai tujuan organisasi.

Bass pun menyebutkan bahwa kharisma, inspirasi, pertimbangan individu (consideration), dan stimulasi intelektual sebagai empat karakteristik yang membentuk kepempimpinan transformasional.  Maka hal – hal tersebut lah yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin transformasional, ia harus memiliki karisma yang kuat, memberi inspirasi yang baik, memiliki pertimbangan individu yang benar, dan mampu memberi stimulus intelektual terhadap lingkuangannya.

Bagi Jimmy Gani tantangan terbesar seorang pemimpin transformasional adalah dapat menyatukan seluruh kepentingan (stakeholder) untuk percaya dalam mewujudkan satu kepentingan bersama yang besar dan berkomitmen tinggi.  Maka menurutnya dibutuhkan suatu uoaya besar dan komunikasi secara terus menerus agar semua kepentingan dapat di akomodir dan disatukan dalam satu visi besar yang sama-sama dipercaya dapat memberikan dampak signifikan bagi semua pihak.

Era VUCA merupakan suatu realita yang tidak dapat dipungkiri lagi, perubahan yang cepat dengan  ketidakpastian disegala bidang merupakan suatu keniscayaan, maka dibutuhkan banyaknya pemimpin transformasional yang dapat mengajak organisasinya siap menghadapi dan melakukan perubahan yang terstruktur dan sistematis.   Pemimin transformasional merupakan seorang role model dalam organisasi perusahaan, ia merupakan pemimpin yang mampu mewujudkan mimpi bersama menjadi kenyataan.


Salam Produktivitas

Dr. R. Ervin Widodo
Executive Director PT. Proven Force Indonesia
Executive Director ICED Institute
Sumber:
​Koran Tempo, Transformational Leadership, 13 Nov 18, hal 20.
]]>
<![CDATA[Moment of Truth dalam Pemasaran]]>Tue, 30 Oct 2018 07:16:56 GMThttp://provenforceindonesia.com/news/moment-of-truth-dalam-pemasaran
Dalam tulisan saya sebelumnya saya bercerita adanya sebuah kedai kopi yang fenomenal karena ter_endorse oleh seorang lawyer terkemuka.  Kedai kopi tersebut adalah kedai kopi Joni, sebuah kedai kopi sederhana yang terletak dibilangan Kelapa Gading Jakarta Utara, yang pertama kali didirikan oleh Om Joni pada tanggal 3 Juni 2009. 

Pada dasarnya kedai kopi ini menawarkan standar produk yang sama dengan yang ditawarkan oleh kedai kopi pada umumnya, namun kurang lebih satu tahun yang lalu kedai kopi ini ter endorse oleh seorang pengacara kondang sehingga semenjak itu brand nya langsung meroket di percaturan kedai kopi jaman now, hingga akhirnya banyak orang yang tertarik untuk berkunjung kesana.

Om Joni sang pemilik kedai kopi tidak menyia sia kan momen ini, moment ini yang merupakan moment of truth benar-benar dimanfaatkan oleh nya dalam bentuk pelayanan prima yang berorientasi pada kualitas dan kepuasan pelanggan.  Kopi Joni dibuat tidak menggunakan mesin-mesin canggih tapi masih menggunakan perangkat masak konvensional dan pembuatan kopinya pun masih diracik sendiri oleh Om Joni sebagi barista nya.  Justru disinilah moment of truth dari kedai kopi tersebut dimana pelanggan melihat secara langsung atraksi Om Joni dalam menyeduh masing-masing kopi, dan bagai mana ia menyapa dan bertegur sapa dengan pelanggan nya.

Menurut Carlzon (1987) moment of truth adalah setiap peristiwa di mana pelanggan berinteraksi dengan setiap aspek perusahaan dan menerima kesan mengenai mutu produk atau jasa yang diterimanya.   Sedangkan menurut Zeithaml (2009) moment of truth adalah kesan atau impression yang diterima oleh pelanggan ketika berinteraksi dengan provider (pemberi jasa) bisa melalui remote encounter, phone encounter, atau face to face.  Moment of truth pun merupakan setiap bentuk interaksi antara penjual maupun pembeli mulai dari awal promosi (iklan) hingga barang dan jasa tersebut diterima oleh pelanggan, moment of truth merupakan titik kritis dimana pelanggan memiliki harapan yang besar terhadap realita dari pelayanan dan ketersediaan produk yang diberikan.  

Barang atau jasa yang ditawarkan harus berwujud (ada) secara nyata hingga di tangan konsumen.  Pada momen ini jika pelanggan puas maka mereka akan loyal, namun jika tidak puas maka mereka akan berpaling ke lain hati.  Maka titik kritis dalam moment of truth merupakan masa dimana pelanggan mendapakan personal touch, hal ini disebabkan karena pelanggan berharap :

1. Pelanggan ingin diperlakukan secara manusiawi
2. Pelanggan tersentuh jika diperlakukan secara individu
3. Pelanggan menyukai produk yang bisa berfungsi dengan baik
4. Pelanggan menyukai hal yang mudah dan sederhana
5. Pelanggan mendambakan pengalaman tanpa birokrasi
6. Pelanggan menyukai produk yang merepresentasikan dirinya
7. Pelanggan ingin dimaklumi
8. Pelanggan ingin di dengar

Bagaimana dengan Kopi Joni memanfaatkan moment of truth setelah mendapat endorsement dari seorang lawyer terkenal ? .... Om Joni sang pemilik Kopi Joni memanfaatkan momen ini sebaik-baiknya dengan memberikan produk yang berkualitas dan pelayanan yang optimal.

Untuk itu (moment of truth) dari segi waktu mereka membuka kedai kopi nya setiap hari dimulai dari jam 6 pagi hingga 5 sore.  Dari segi kualitas, kopi yang akan digunakan diperiksa terlebih dahulu  harus sesuai dengan standar yang ditentukan, air pun  dimasak hingga titik derajat panas tertentu agar mampu mengeluarkan rasa dan aroma kopi yang nikmat.  Dari segi pelayanan, setiap pelanggan dapat order sesuai dengan keinginannya, apakah rasa kopi nya lebih strong berarti “sukit” susu sedikit, atau rasa kopinya yang lebih light.  Mereka pun membuat aturan “1 minute service”, setiap pelanggan harus cepat dilayani,  tidak boleh lebih dari satu menit.  Adapun untuk menjaga kualitas yang berkesinambungan, selain Om Joni sendiri yang menjadi barista, ia pun menciptakan barista-barista muda sebagai kadernya yang dapat menduplikasi keahliannya dalam membuat minuman kopi.

Jika ada pelanggan atau siapa pun yang ingin ngobrol dan belajar membuat kopi yang nikmat Om Joni tidak sungkan untuk berbagi ilmunya, karena baginya ... “kopi boleh sama, tapi rasa pasti berbeda”.

Salam Kopi Joni.



Dr. R. Ervin Widodo

Executive Director PT. Proven Force Indonesia
Executive Director ICED Institute
Sumber:
​Koran Tempo, 24 Oktober 2018
]]>
<![CDATA[Lima Komponen Endorsement]]>Mon, 15 Oct 2018 03:13:36 GMThttp://provenforceindonesia.com/news/lima-komponen-endorsement
​Jujur sejatinya saya tidak tahu dan mengenal nama kedai kopi yang lagi nge hits di bilangan Kelapa Gading ini, namun setelah saya melihat instagram seorang lawyer terkemuka di negeri ini, saya jadi tertarik untuk datang ke kedai kopi tersebut.  Selain ingin minum kopi tentunya ingin ber selfie ria bersama lawyer hebat tersebut.

Sang lawyer yang fenomenal ini tidak pernah menjual dan mempromosikan kedai kopi tersebut secara langsung, dia hanya datang untuk bertemu kolega dan tamu dari kedai kopi.  Namun karena ia merupakan lawyer kondang maka kehadirannya bagaikan magnet orang untuk datang berkunjung ke kedai kopi tersebut, apakah sekedar minum kopi, berdiskusi, atau foto bersama dengan nya.

Namun bukan di kedai kopi Kelapa Gading saja yang saya datangi karena ter endorse dari orang hebat.  Setahun yang lalu saya pernah datangi sebuah kedai kopi di wilayah Cipete, Jakarta Selatan, karena tempat tersebut dikunjungi oleh Presiden Republik Indonesia.  Endorsement dari beliau mampu memberi gairah bagi saya dan banyak orang untuk berkunjung ke kedai kopi tersebut.    

Endorsement merupakan dukungan maupun dorongan dari seseorang (biasanya public figure) kepada suatu merek tertentu sehingga diharapkan banyak orang akan tertarik untuk membeli atau berkunjung ketempat tersebut.  Orang yang melakukan aktivitas endorsement dinamakan endorser.   Endorser juga sering disebut sebagai direct source (sumber langsung) yaitu seorang pembicara yang mengantarkan sebuah pesan dan atau memperagakan sebuah produk atau jasa (Belch & Belch, 2004).  Adapun menurut Hardiman (2006) endorser juga diartikan sebagai orang yang dipilih mewakili image sebuah produk (product image). Biasanya dari kalangan tokoh masyarakat yang memiliki karakter menonjol dan daya tarik yang kuat.

Biasanya seorang endorser adalah seorang artis atau tokoh masyarakat, seperti “Bang Doel” yang pernah menjadi endorser sebuah lembaga bimbingan belajar, hal ini dianggap karena sang artis merupakan public figure yang meliki banyak fans setia, yang mau mengikuti apa pun yang dikatakan oleh sang artis tersebut.  Maka terdapatlah istilah celebrity endorser.

Menurut Schiffman dan Kanuk (2000), Peran celebrity endorser   dalam model iklan memperkenalkan sebuah merek dan perusahaan dapat digunakan dalam sebuah iklan berupa :

1. Testimonial , jika secara personal selebriti menggunakan produk tersebut maka pihak dia bisa memberikan kesaksian tentang kualitas maupun benefit dari produk atau merk yang diiklankan tersebut.
2. Endorsement , ada kalanya selebriti diminta untuk membintangi iklan produk dimana dia secara pribadi tidak ahli dalam bidang tersebut.
3. Actor , selebriti diminta untuk mempromosikan suatu produk atau merk tertentu terkait dengan peran yang sedang ia bintangi dalam suatu program tayangan tertentu.
4. Spokeperson, selebriti yang mempromosikan produk, merk atau suatu perusahaan dalam kurun waktu tertentu masuk dalam kelompok peran spokeperson. Penampilan mereka akan diasosiasikan dengan produk dan merk yang mereka wakili.

Sedangkan menurut Shimp (2005) terdapat lima komponen yang dalam atribut endorsement yaitu :

1. Trustworthiness (kepercayaan), tingkat kepercayaan, ketergantungan, seperti seseorang yang dapat dipercaya.
2. Expertise (keahlian), karakteristik yang mempunyai skill, pengetahuan, atau kemampuan yang berhubungan dengan merek yang di endorse.
3. Physical Atractiveness (ketertarikan secara fisik), perlakuan secara hormat untuk melihat kedalam kelompok.
4. Respect (dihormati), kualitas untuk dipuja atau dihargai oleh orang lain.

Seseorang yang menjadi endoser tidak bisa dipilih asal saja, ia harus menjadi representative dari perusahaan, harus bisa mewakili jati diri perusahaan, memiliki citra yang baik, dan dapat diterima oleh pasar.  Endorser pun harus mewakili dari sisi emosi dan perilaku perilaku pelanggan sehingga dapat terkesan “gue banget” oleh pelanggan. 

Banyak pelanggan tertarik dan membeli sebuah produk karena terpengaruh oleh public figure yang menjadi endorser produk tersebut, mereka memiliki energi yang dapat menggerakan pihak lain untuk dating dan membeli membeli barang.

 

Salam Produktivitas

 

Dr. Ervin AP. Widodo

Executive Director PT. Proven Force Indonesia
Executive Director ICED Institute
Sumber:
​Koran Tempo 10/10/2018
]]>
<![CDATA[Jiwa Altruis]]>Thu, 11 Oct 2018 13:13:28 GMThttp://provenforceindonesia.com/news/jiwa-altruis
Seorang anak muda bertubuh sedang penuh tumpukan debu yang menutupi sekujur tubuhnya tidak henti-hentin ya memindah puing bongkahan gedung untuk mengevakuasi korban gempa.  “Siang dan malam kami terus mencari korban yang minta tolong, … hari pertama kami mendengar sepuluh orang minta tolong dari (berbagai) tempat yang berbeda, hari berikutnya menjadi tujuh orang, dan hari ini hanya tinggal dua orang, dan dua orang ini lah yang dapat kami selamatkan”, kata pemuda tersebut yang bernama Talib.  Talib bukan seorang petugas khusus yang terlatih untuk melakukan evakuasi bencana alam, ia pun tidak dibekali peralatan canggih untuk melakukan evakuasi, ia hanyalah penduduk setempat yang memiliki jiwa altruis untuk menolong sesama umat manusia.

Atas dasar jiwa kemanusiaan yang tinggi Talib dan masyarakat sekitar bahu membahu bersama BNPB, TNI, dan Polri untuk mengevakuasi korban gempa, mereka bekerja siang dan malam tanpa merasa letih,   bahkan  seringkali nyawa pun mereka pertaruhkan demi menolong korban bencana.  Jiwa kemanusiaan untuk menolong orang lain tanpa pamrih merupakan bentuk dari jiwa altruis.

Jiwa altruis inilah yang mendorong seorang Talib dan banyak orang lainnya untuk bangkit dan menolong setiap orang tanpa disuruh dan dikomandoi, mereka bergerak sendiri atas dasar kemanusiaan dan kemauannya sendiri.  Mereka bergerak secara spontan karena adanya dorongan yang besar dari sendiri, mereka bergerak atas dasar panggilan nurani yang mereka yakini benar sebagai umat manusia.

Jiwa altruis merupakan sikap mental seseorang yang ia miliki dalam bentuk energi positif untuk menolong sesama umat manusia tanpa pamrih dan tanpa memandang kelas sosial, bahkan seringkali tanpa memperhatikan keselamatan dirinya sendiri.

Menurut Schroder (1995) altruism (altruisme) adalah tindakan sukarela untuk membantu orang lain tanpa pamrih, atau ingin sekedar beramal baik.  Adapun menurut Baron dan Byrne (1996) altruisme merupakan bentuk khusus dalam penyesuaian perilaku yang ditujukan demi kepentingan orang lain, biasanya merugikan diri sendiri dan biasanya termotivasi terutama oleh hasrat untuk meningkatkan kesejahteraan orang lain agar lebih baik tanpa mengaharapkan penghargaan. Sementara menurut Myers (2002) altruis dapat didefinisikan sebagai hasrat untuk menolong orang lain tanpa memikirkan kepentingan diri sendiri.  Hal ini dipertegas oleh Jhon W. Santrock (2003) menyatakan bahwa altruis adalah minat yang tidak mementingkan dirinya sendiri untuk menolong orang lain.

Seseorang yang memiliki jiwa altruis tinggi ia akan cepat merespon untuk membantu orang lain ketika melihat ada orang lain yang mendapatkan musibah, namun seseorang yang memiliki jiwa altruis rendah ia akan cuek, menghindar, bahkan pura-pura tidak tahu adanya musibah yang sedang menimpa orang disekitarnya.  Jiwa altruis ini tidak datang seketika pada diri seseorang melainkan berasal dari proses pendidikan karakter dan budi pekerti yang ia peroleh sejak kecil hingga ia dewasa.  Agama, budaya, nilai-nilai moral, local wisdom, lingkungan, pengasuhan orang tua, dan pendidikan formal maupun informal mampu membentuk jiwa altruis seseorang. 

Jiwa altruis memiliki derajat yang lebih tinggi dari kewajiban, altruis merupakan panggilan nurani yang berasal dari dalam diri seseorang (intrinsik), sedangkan kewajiban merupakan respon seseorang untuk bergerak membantu sesama namun lebih banyak dipengaruhi faktor ekstrisik berupa aturan dan hukum ikatan kontrak kerja yang berlaku.

Jiwa altruis seseorang tidak hanya dibutuhkan pada saat terjadinya bencana alam atau musibah semata, namun juga sangat dibutuhkan di ruang lingkup kerja suatu perusahaan, dimana perusahaan memiliki karyawan yang cepat membantu ketika menghadapi tantangan dan keterpurukan.  Pada saat ini perusahaan membutuhkan karyawan yang memiliki jiwa altruis yang mampu membantu mencari solusi keluar dari permasalahan, tetap berdedikasi tinggi bagi perusahaan tanpa heboh menutut hak-hak mereka.   Seorang karyawan yang memiliki jiwa altruis yang tinggi dia akan mengabdikan dirinya untuk bekerja bagi perusahaan,  ia tidak berhitung berapa banyak yang perusahaan harus berikan tapi berapa banyak yang ia dapat berikan bagi perusahaan.

Para relawan, anggota TNI, Polri, BNPB, BASARNAS, maupun elemen masyarakat yang lainnya pasti memiliki jiwa altruis yang tinggi untuk menolong sesama umat manusia, mereka adalah pahlawan kemanusiaan.  Maka terimakasih yang sebesar-besarnya bagi siapapun yang telah membantu dan menolong sesama manusia dari bencana dan musibah.  Dan turut berduka yang sedalam-dalamnya bagi semua korban dan keluarga korban yang terkena musibah bencana alam, semoga Tuhan yang maha pengasih menguatkan iman kita semua.

 
Salam takjim, Professionalism On Hand

 
Dr. R. Ervin Widodo

Executive Director PT. Proven Force Indonesia
Executive Director ICED Institute
Sumber:
​Koran Tempo, 03/10/2018
]]>
<![CDATA[Membangun Disiplin Kerja]]>Wed, 05 Sep 2018 10:48:15 GMThttp://provenforceindonesia.com/news/membangun-disiplin-kerja
​Mengapa dalam sepuluh tahuh terakhir ini begitu subur lembaga pelatihan yang memberikan aktivitas outbound yang semi kemiliter-militeran bahkan bekerja sama dengan beberapa instansi militer. Bahkan khusus untuk level manager ke atas atau untuk management development program (MDP), pendidikan calon pimpinan, mendapat pelatihan langsung instansi militer hingga harus menginap di barak mereka.

Selain jiwa korsa (rasa memiliki dan kebersamaan), banyak nilai moral dan filosofi baik yang dapat diangkat dari dunia militer, salah satunya adalah kedisiplinan.  Kedisiplinan dalam waktu, kedisiplinan dalam bersikap, kedisiplinan perilaku, kedisiplinan bekerja, dan kedisiplinan dalam bertindak.

Bagi dunia militer kedisiplinan merupakan tonggak dari segala aspek kehidupan mereka, kedisiplan akan menjaga mereka tetap fokus pada tujuan akhir, kedisiplinan pun menjaga mereka dari kesalahan dan kecerobohan yang dapat merugikan mereka semua.  Bagi mereka, ketidak disiplinan satu orang dapat mematikan satu pasukan.  Maka kedisiplinan sangat mutlak bagi mereka.

Hal ini lah yang coba diterapkan di dunia kerja kalangan sipil dan swasta, membangun disiplin kerja.  Membangun kedisiplinan kerja berarti membangun budaya kerja organisasi yang produktif,  yang mampu menciptakan daya saing bagi perusahaan.  Membangun disiplin kerja berarti membangun sikap mental seluruh karyawan dalam bekerja untuk lebih cepat, tepat, dan produktif.
  
Menurut Rivai (2011) bahwa : “disiplin kerja adalah suatu alat yang dipergunakan para manajer untuk berkomunikasi dengan karyawan agar mereka bersedia untuk mengubah suatu perilaku serta sebagai suatu upaya untuk meningkatkan kesadaran dan kesedian seorang dalam memenuhi segala peraturan perusahaan”.  Adapun menurut Muchadarsyah Sinungan (1995) disiplin merupakan sikap mental yang tercermin dalam perbuatan atau tingkah laku individu, kelompok, atau masyarakat berupa ketaatan terhadap peraturan-peraturan atau ketentuan yang ditetapkan untuk tujuan tertentu.

Bagi perusahaan membangun disiplin kerja tidak hanya membangun sikap mental dalam bekerja tapi juga profitabiltas perusahaan.  Menurut Simamora dalam Sinambela (2012) tujuan utama tindakan pendisiplinan adalah memastikan bahwa perilaku-perilaku pegawai konsisten dengan aturan-aturan yang ditetapkan oleh organisasi. Berbagai aturan yang disusun oleh organisasi adalah tuntunan untuk mencapai tujuan organisasi yang ditetapkan. Pada saat suatu aturan dilanggar, efektivitas organisasi berkurang sampai pada tingkat tertentu, tergantung pada kerasnya pelanggaran. 

Disiplin kerja yang baik diharapkan tumbuh dan berasal dari kesadaran diri sendiri, tidak harus selamanya dari aturan dan hukuman yang ada.  Menurut Siagian (2011) bentuk disiplin yang baik akan tercermin pada suasana yaitu:
1. Tingginya rasa kepedulian karyawan terhadap pencapaian tujuan perusahaan.
2. Tingginya semangat dan gairah kerja dan inisiatif para karyawan dalam melakukan pekerjaan.
3. Besarnya rasa tanggung jawab para karyawan untuk melaksanakan tugas dengan sebaik baiknya.
4. Berkembangnya rasa memiliki dan rasa solidaritas yang tinggi dikalangan karyawan.
5. Meningkatnya efisiensi dan produktivitas kerja para karyawan.

Sudah sangat jelas bahwa disiplin kerja memberi manfaat bagi perusahaan, disiplin kerja harus terus dijaga dan pertahankan agar menjadi budaya kerja yang baik.  Berikut bebeberapa hal dalam membangun disiplin kerja, antara lain :

1. Adanya komitmen dari semua pihak khususnya atasan.
2. Adanya aturan yang berlaku dalam bentuk standard operational prosedure (SOP).
3. Ditegakannya reward atau punishment.
4. Tersedianya sarana visual manajemen sebagai pengingat (spanduk, standing banner, brosur, buku pedoman, dll).
5. Dilaksanakannya pelatihan secara berkala sebagai pengingat terhadap kedisiplinan kerja .
6. Adanya team audit yang bertugas memastikan kedisiplinan diterapkan ditempat kerja.

Membangun disiplin kerja dapat dimulai dari diri sendiri, menjaga disiplin kerja berarti menghormati diri sendiri dan organisasi.

Salam Produktivitas, Profesionalism on hand.

Dr. R. Ervin Widodo
Executive Director PT. Proven Force Indonesia
Executive Director ICED Institute
Sumber:
​Koran Tempo, 5/9/18, hal 20.
]]>